tantangan 7

Pinterest



"Hanna"
Seseorang memanggilku dengan suara keras. Aku segera membalikan badan, mencari sumber suara itu. siapa yang memanggilku ditempat yang asing ini? Dari kejauhan, aku melihat seorang pria sedang berjalan mendekat ke arahku. Aku memicingkan mata berusaha mengenali sosok itu. Jantungku mulai berdetak kencang tanpa bisa aku cegah. Hingga sosok tersebut hanya berjarak tiga langkah dariku, jantungku belum berdetak normal. Tidak mungkin. ini bukan dia. Aku mencoba membantah tebakanku sendiri akan sosok dihadapanku kini.

"Apa kabar, Hanna? Masih ingat aku kan?" tanya sosok yang dihadapannku dengan senyum lebarnya. Seorang sosok yang kini  bukan hanya sekedar ilusi.

Andai saja aku bisa menghilang detik itu juga, mungkin akan aku lakukan. Kini aku hanya bisa menelan ludahku yang terasa pahit di tenggorokanku sendiri.

"Hanna?" panggilnya sekali lagi. Mungkin dia khawatir dengan diriku yang mendadak bisu.
"Apa kabar?" Pria tersebut semakin melebarkan senyumannya. Entah mengapa aku benci caranya memanggil namaku. Ia langsung  mengulurkan tangan kanannya kearahku. 

Aku tidak bisa lagi menerima uluran tangannya. Terserahlah dia mau menilaiku bagaimana. Aku lekas menangkupkan kedua tanganku sambil tersenyum kaku yang sulit untuk ku cairkan. "Alhamdulillah, kabarku baik". Kini aku bisa melihat, tangan kananya yang perlahan diletakkan masuk dalam saku celana.

"Dengan siapa? Kok bisa di sini?" tanya pria tersebut tetap dengan senyumannya yang tak kendur.
Aku menatapnya dengan keraguan. "Sendiri" jawabku singkat, langsung mengalihkan mataku darinya. Aku tidak bisa lama-lama di dekatnya. situasi macam apa ini?. Aku terus mengeluh pada hatiku, sejenak aku menarik nafas dalam dan berusaha memberanikan diri untuk bisa menjauh dari pandangan pria ini.

"Maaf, aku harus pergi. Ada hal penting yang harus aku kerjakan" baru setengah badan aku hendak pergi, pria itu mencegah. "Hanna, tidakkah kita bisa becengkrama sebentar saja?" kini suaranya terdengar memprihatinkan. Aku masih tetap mempertahankan emosiku dan kembali mengarahkan pandanganku ke matanya. "Maaf, aku harus pergi." kataku mantap dengan sorot mata yang tegas, dan tentu saja dengan senyuman lebar yang kupaksakan.

Aku meninggalkannya dengan cepat, dan aku tidak ingin dia mengejarku dan melihat air mataku yang berjatuhan layaknya di drama korea yang pernah aku saksikan.

semakin kencang aku melangkah, semakin kuat pula air di pelupuk mataku berdesakan ingin keluar. jangan, aku mohon, bertahanlah hingga punggungku tak bisa terlihat olehnya lagi. Aku bergeges meninggalkan taman itu. menuju mobil yang terparkir di sisi lapangan. Segera aku jalankan mobil, tapi pandanganku mulai sangat kabur. Bukan karena mataku sedang tidak sehat, melainkan karena air mata yang sejak tadi mendesak ingin keluar, akhirnya berhasil meloloskan diri.

Selama diperjalanan, aku berusaha tidak mengingat pria itu dengan melihat anak-anak yang bermain riang di taman yang barusan aku lewati . Betullah kata mereka "semakin engkau memaksa untuk lupa, semakin sulit ia akan menghilang".










Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf Yaa

Diam