Taman kota
![]() |
"Dek, ke taman kota yuk!"
"Ngapain?"
"Cari inspirasi, mau gak?"
"Yukyuk".
Sore itu aku dan kakakku, meluncur ke taman kota. Jika di tanya "Apakah taman kota di kotaku indah?" Saat ini aku belum berani mengatakannya indah. Tapi jadilah untuk pelepas penatnya mata.
"Ngapain?"
"Cari inspirasi, mau gak?"
"Yukyuk".
Sore itu aku dan kakakku, meluncur ke taman kota. Jika di tanya "Apakah taman kota di kotaku indah?" Saat ini aku belum berani mengatakannya indah. Tapi jadilah untuk pelepas penatnya mata.
Pandanganku menyeluruh kepada para pengunjung taman kota, dan bunga yang masih kurang warnanya. Ahh pedagang asongan selalu saja menggodaku dengan jajanan yang mereka jajakan.
"Sekarang kita mencar dulu ya. Satu jam kedepan, kita baru pulang oke". lirih wanita lima tahun di atasku dengan semangat. Langkahnya gontai mencari tempat untuk bercengkrama bersama hangatnya senja di taman kota. Sementara aku, masih kikuk ketika harus duduk sendirian di tempat umum ini.
Aku memilih bangku paling tengah diantara banyaknya bangku-bangku yang terletak dengan mereka yang berpasangan. Buku dan pena yang sudahku siapkan dari rumah, menjadi teman bisu yang mengasyikkan.
"Hey, kau mau nulis apa?" benakku bertanya.
"Sepertinya dengan menciptakan puisi lebih tepat." lirih penaku langsung memberi judul di atas kertas.
"Bagaimana baitnya?" aku terdiam dan kembali menyapu pandangan di taman kota ini.
"Baiklah, aku sudah menemukan objeknya." Penaku berteriak girang, sementara benakku tersipu malu.
"Sepertinya dengan menciptakan puisi lebih tepat." lirih penaku langsung memberi judul di atas kertas.
"Bagaimana baitnya?" aku terdiam dan kembali menyapu pandangan di taman kota ini.
"Baiklah, aku sudah menemukan objeknya." Penaku berteriak girang, sementara benakku tersipu malu.
"Pria berbaju merah. İzinkah aku merakit puisi tanpa amarah cinta"
Aku membuat puisiku sambil sesekali melihat pria berbaju merah. Karena memang dia cocok sebagai objek puisiku kali ini, karena hanya dia yang duduk seorang diri.
Aku membuat puisiku sambil sesekali melihat pria berbaju merah. Karena memang dia cocok sebagai objek puisiku kali ini, karena hanya dia yang duduk seorang diri.
Satu jam kemudian aku menghampiri kakakku yang sibuk berkutat dengan tulisanya.
"Yuk pulang. Adek udah berhasil nii buat 3 puisi.. Kakak gimana?" tanyaku.
"Bagus! kakak juga sudah selesai puisinya." jawabnya mantap.
"Yuk pulang. Adek udah berhasil nii buat 3 puisi.. Kakak gimana?" tanyaku.
"Bagus! kakak juga sudah selesai puisinya." jawabnya mantap.
"1 jam sudah berlalu.. Yuk pulang."

metode cari ide menulis yang bagus nih. menonton orang.
BalasHapusEhe bisa di cuba kak :)
HapusSomeday kita ketemuan, yaaa..
BalasHapusBikinin puisi tentangku, ya, Daraaaaaaa 😍😍😍
Semogaa ya rabb.. Pingin iih.. Sekalian jumpa adik2 cumill😍
HapusAshiiap insyaAllah kalau masih hidup ;)
Kalo aku ke taman cuma buat wifian 😧
BalasHapusHahaha gpp, bagus ituu
HapusNah kan aku kalo buat puisi pasti objeknya tentang si dia
BalasHapusWah sedapnye menjadi si dia, selalu dibuatkan puisi ehee
HapusAlam memang tak pernah bosan menampakkan keindahan 🥺
BalasHapusMembaca komenan pun tak peranah bosan hadirkan bahagia. Eh, hehehe
HapusWaa jadi pengen ke taman kota mu itu kak. hehee
BalasHapusYukyuk ku tunggu, kita duduk bareng mengemati orang yang lalu lalang.. Haha
HapusIbarat pelukis dan kanvasnya, tapi melukis dengan kata-kata
BalasHapusHahaha iya yaa, dan rasa menjadi warnanya.. :)
HapusPengen juga deh sesekali jadi model puisinya... Hehe
BalasHapusBoleh boleh, kakak yang penuh teka-teki hahaha. Tapi puisiku tak lah sebagus kakak :)
HapusWih keren nih cara nya.
BalasHapusTapi aku lebih suka tempat yang hening he
Tempat hening bagus juga ;)
Hapus