Buku dan pena
-
Pena : Sudahlah, hentikan lamunanmu! kau itu sudah seperti buku lusuh dengan halaman rindu yang terus terbuka sejak se-abad yang lalu.
Buku : Aku tidak melamun!!! Mengapa kau selalu sok tahu (elaknya)
Pena : (mendengus pasrah) baiklah (sambil tersenyum) kalau begitu, gantilah halamanmu dengan halaman yang baru. karena aku, ingin menuliskan sesuatu dalam lembaranmu.
Buku :(terdiam,sambil membuka lembaran-lembaran dalam dirinya secara cepat tak terkendali. hingga angin pun ikut tertawa menjawab panggilan lantang dari si buku)
Pena : apa yang kau lakukan?!!!(dengan cepat pena pun menghampiri buku yg ia cintai itu, semakin kuat sang buku membuka lembaran dalam dirinya, semakin kencang pula angin menari-nari di dalamnya.
Namun sayang pena tak kuasa, kini buku rindu itu bukan lagi kumpulan dari setiap lembaran yang tersusun rapi, setiap kepingan dari lembaranya kini sudah berserakan memenuhi seisi ruangan.
.
Dengan rasa haru, pena pun berusaha menyatukan lembaran yang sudah tercabik karena emosi sang buku dibantu pesta sang angin.
Berkali-kali pena menyatukan lembaran yang sudah berkeping, berkali-kali pula sambunganya tak dapat ia temukan. "Bagaimana mungkin?!" lirih pena putus asa.
.
Tidak lama setelah itu, angin menari itu kembali tiba, seolah menertawakan cinta sang pena yang tidak kesampaian. Tapi angin seolah tak tega, hingga ia pun membatu sang pena menemukan tiga keping kertas dari tubuh buku rindu yang tersusun utuh, khusus untuk pena yang selama ini tersembunyi.
.
Di sana pena membaca catatan si buku dari setiap kepingan lembaranya. Pena merasa perih, melihat goresan tinta dalam tulisan si buku seolah meringis memendam luka yang teramat dalam. "pena, kau tak perlu menuliskan apapun lagi di lembaranku, karena rindu ini tidak mau pergi. Dan dia selalu tersakit, jadi maafkanlah."
Belum sempat pena menenangkan perasaanya, angin itu kembali berulah. Kali ini dia tidak berpesta kencang, melainkan membelai lembut setiap sisi ruangan, yang penuh kenangan antara pena dan si buku rindu. Sambil membawa setiap keping dari lembaran buku rindu yang berserakan. Seolah angin tidak memberi ruang untuk pena, dalam menjaga kepingan lembaran si buku rindu.
.
Tibalah saatnya, pena pun mengurung niat dalam-dalam untuk menaruh hati pada buku mana pun. (entah sampai kapan tinta untuk si buku rindu ini dibawanya pergi).
.
Tibalah saatnya, pena pun mengurung niat dalam-dalam untuk menaruh hati pada buku mana pun. (entah sampai kapan tinta untuk si buku rindu ini dibawanya pergi).
.
Waktu terus berjalan, tugas pena pun tak kunjung usai. Pena pun sibuk dengan dirinya yang menulis di berbagai kertas dan buku yg lebih indah.
"Semakin banyak aku menggoreskan tinta, maka semakin jauh pula kenangan tintaku untuk buku rindu itu hilang. Tugasku hanya satu, menyalurkan hati si manusia, agar tidak menyimpan duka layaknya buku rindu yang pernah ku tungggu dan kini berlalu."
.

Emmm ko sad y😢
BalasHapusTerkadang cinta begitu :')
HapusKeren ini kalau ditampilkan di panggung drama.
BalasHapusHahah gak kebayang kak.. Makasi sudah mampir kak.. :)
HapusTeruntuk pena, cinta sejati akan datang pada masanya :)
BalasHapus"Ashiaap" kata pena :)
HapusSampaikanlah rinduku lembar demi lembar melalui guratan penamu...
BalasHapus😬😬😬
Itulah yg dialami buku rindu :') lembarannya habis terisi rindu, kasian pena yg mencintainya tak kebagian lembaran ckckck
HapusDuuh, duuh, duuh. Bikin nangis niih
BalasHapusSini2, biar aku hapus air matanya hehe
HapusPena dan tinta sebuah perpaduan yang sempurna
BalasHapusKarena keduanya, merupakan kesatuan yang tak terpisahkan hehehe
Hapusoh pena, cari saja buku yang lain yang mau menerima goresan cintamu eh tintamu uhuk uhuk jiwaaa
BalasHapusHahaha, "Ashiaap" kata pena
HapusUh Oh , aku terharu sama kisah pena dan buku. Baper baca paragraf terakhir ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
BalasHapusHuhuhuhu :'(
HapusPena: rinduuuu...
BalasHapusBuku : (tersedu-sedu) huhuhuh
HapusDuka dan rindu, antara ditunggu atau biarkan berlalu...huhu...
BalasHapusBukunya sudah berlalu huhuhu..
Hapus